GANDENG UNMAS DAN BI, UHN SUGRIWA GELAR WEBINAR NILAI EKONOMI UPACARA YADNYA

GANDENG UNMAS DAN BI, UHN SUGRIWA GELAR WEBINAR NILAI EKONOMI UPACARA YADNYA

DENPASAR, UHNSUGRIWA-Menyikapi perekonomian di tengah pandemi Covid-19 yang tersendat, Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa bersama Universitas Mahasaraswati (Unmas) dan Bank Indonesia (BI) menyelenggarakan webinar bertema ‘Nilai Ekonomi Upacara Agama Hindu di Bali’, Rabu (10/3). Kegiatan dibuka oleh Wakil Rektor I UHN Sugriwa, Prof. Dr. Drs. I Made Surada, MA. Turut memberi sambutan, Dekan Fakultas Dharma Duta UHN Sugriwa, Dr. Drs. I Nyoman Ananda, M.Ag dan Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unmas Dr. Putu Kepramareni, SE., MM.
Pembicara 1, yakni Dr. I Nyoman Bontot, S.TP., M.Fil.H dari UHN Sugruwa menyampaikan materi dengan topik ‘Upacara Agama Hindu Merupakan Kewajiban dan Penggerak Ekonomi di Bali’. “Selain efek pengganda kepada para pemasok bahan upakara, upacara juga berdampak kepada bidang selain upakara (seperti kuliner), sebagaimana di Pura Natar Sari di Kabupaten Tabanan tahun 2013, lebih dari Rp 800 juta uang beredar di pedagang makanan selama piodalan ageng berlangsung,” ungkapnya.
Selanjutnya Pembicara 2, Kadek Apriada, S.E., M.Si dari Unmas Denpasar dengan topik ‘Menghitung Nilai Ekonomi Upacara Agama Hindu serta Peran Akuntansi dalam Upacara Agama Hindu’. Pentingnya Beryadnya, ujarnya, karena membuat Ekonomi Bali berputar. Kemudian pentingnya akuntansi dalam upacara Agama, memegang norma sosial yang menjadi acuan dalam mempertanggungjawabkan pengelolaan keuangan kepada masyarakat. “Dalam menjaga suatu kepercayaan dalam mengelola dan melaksanakan upacara Agama konsep ‘pang pada melah’ menjelaskan bahwa dengan adanya transparansi pengelolaan keuangan pada upacara Agama, dapat membentuk suasana keluarga yang harmonis tanpa ada pihak yang merasa dirugikan melainkan saling menguntungkan,” paparnya.
Sementara Pembicara 3, M Setyawan Santoso, S.E., M.Sc dari BI menyampaikan ‘Peran Bank Indonesia dalam Pengembangan Ekonomi Upacara’.
Ia mendorong beberapa hal. Di antaranya Pelestarian Kegiatan Upacara dan kebudayaan di Bali untuk mendukung Konsep Pembangunan Ekonomi Berbasis Tri Hita Karana Mendorong potensi upacara di Bali untuk mewujudkan Quality Tourism dengan meningkatkan promosi, misalnya melalui Youtube dan Instagram.
Kemudian mendorong kelestarian Upacara di Bali dalam masa pandemi melalui penerapan protokol Kesehatan.
“Juga membangun aplikasi untuk memudahkan wisatawan mendapatkan informasi terkini mengenai upacara dan hari raya untuk menarik lebih banyak turis,” jelasnya.
Acara dipandu Moderator: Astrid Krisdayanthi, S.E., M.Si. Dilakukan pula presentasi prosiding oleh Putu Riska Wulandari, S.Si., M.Si yang berjudul ‘Pengaruh Budaya Tri Hita Karana terhadap Penggunaan Sistem Informasi Akuntansi dengan Pendidikan sebagai Variabel Moderasi pada LPD Kota Denpasar’. (sas/nya)
Pusdok-Humas-Uhnsugriwa