EKSISTENSI ARAK BALI SEBAGAI WARISAN LOKAL BUDAYA BALI

Bagikan :

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
SEMARAPURA, UHNSUGRIWA-Giat kerja untuk memenuhi target dan agenda kegiatan terus digalang oleh Mahasiswa KKN UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar. Salah satunya mahasiswa KKN di Desa Takmung 2 Kelompok 27 menggelar seminar mulat sarira kembali ke jati diri, mulai dari diri untuk alam Bali dengan tema ‘Eksistensk Arak Bali dalam Kehidupan Sosial, Religi, dan Ekonomi Masyarakat Bali’, Jumat (20/8).
Atas bimbingan dosen UHN IGB Sugriwa Denpasar I Made Adi Widnyana,S.Farm., Apt., SH., MH, kegiatan ini berhasil menarik perhatian dan antusiasme peserta yang merupakan masyarakat, khususbya pemuda baik secara daring maupun luring . Kegiatan dibuka Kepala Desa Takmung, diwakili Sekdes setempat. Turut hadir Ketua LP2M UHN yang dihadiri oleh sekretaris, Babinsa Takmung, Bhabinkamtibmas, dan STT.
Hadir sebagai Narasumber, Founder Warung Pan Tantri, Kadek Unggit Desti yang memaparan tentang Arak Bali selama kurang lebih 2 jam. Ia menerangkan, arak Bali merupakan warisan lokal leluhur dan budaya Bali. Oleh karena itu, menurutnya arak Bali harus dilestarikan.
Arak Bali asli, jelasnya terbuat dari Tuak Jaka (aren) dan Tuak Nyuh (kelapa). Arak dipercaya memiliki keistimewaan sebagai obat, sebagai tradisi untuk sarana upacara yadnya, dalam hal ini tetabuhan. Arak juga dikatakan sebagai penghangat tubuh dan untuk melancarkan aliran peredaran darah bagi seseorang yang jarang atau kurang berolahraga.
Di kalangan pemuda, lanjutnya arak merupakan sarana atau cairan untuk menuangkan inspirasi dan sebagai jembatan untuk mengeluarkan ‘unek-unek’ yang ada pada diri, sehingga tidak menjurus kepada gerakan dan sikap yang negatif.
Namun demikian, ia menekankan pecinta arak Bali agar bijak sebelum mengkonsumsinya. Arak hendaknya diperhatikan terlebih dahulu kualitasnya melalui aroma dan cita rasanya. Ia tidak ingin arak dijadikan kambing hitam jika terjadi suatu perkara, seperti mabuk dan gangguan penyakit lainnya.
Sebagian budaya lokal, menurutnya penggunaan arak yang perlu dilestarikan misalnya pelengkap tradisi atau kegiatan Magenjekan dan Magibung dengan ciri minuman khas yang digunakan adalah arak Bali. Sementara, Tetabuhan dalam upacara yadnya hendaknya selalu menggunakan percikan arak Bali karena proses pembuatan arak menggunakan unsur Panca Mahabhuta .
Perlu diperhatikan pula sesuluh dari orang tua dan pendahulu, hendaknya jika minum arak agar disesuaikan dengan kebutuhan tubuh agar tidak sampai mabuk dan tidak mengganggu lingkungan sekitar.
Jika dikaitkan dengab masa pandemi saat ini, arak bisa dijadikan sebagai penyambung kehidupan ekonomi. Salah satunya bisa membuka warung arak. Namun catatannya, ketika arak laris, petani arak agar tetap menjaga mutu dan kualitasnya serta selalu menjaga kemurnian arak itu sendiri.
Seminar selama 3 jam itu berjalan dengan lancar dan dibanjiri pertanyaan dari partisipan. Narasumber dengan luas membagi pengalaman dengan menjawab setiap pertanyaan. Salah satu yang mendapat perhatian adalah bahwa begitu luas eksistensi arak Bali secara sosial religi. (1290@)
Pusdok-Humas-Uhnsugriwa